Jakarta
Rakor dengan Pemda, BPS Paparkan Dinamika Inflasi Pasca Lebaran di Berbagai Daerah
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi bersama pemerintah daerah yang dilaksanakan pada Senin (20/4/2026), BPS menyampaikan peringatan terkait potensi inflasi pasca Lebaran sekaligus memaparkan sejumlah komoditas yang sering menjadi penyebab kenaikan harga. (Dok Ditjen PDN Kemendag)
SURATKABARGENTA.ID, JAKARTA – Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menyampaikan histori inflasi yang dialami Indonesia pasca Lebaran yang mesti diantisipasi oleh pemerintah daerah seluruh Indonesia agar tidak terjadi lonjakan inflasi di daerah.
Ateng Hartono menerangkan, melihat riwayat 4 tahun terakhir, tingkat inflasi pada pasca Lebaran cenderung lebih rendah dibandingkan pada momen Ramadan hingga Lebaran, kecuali pada tahun 2022 mengingat Lebaran jatuh pada awal bulan.
Dia menerangkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih memberikan andil yang positif terhadap inflasi pada pasca Lebaran, kecuali pada Mei 2024 lalu terjadi deflasi pada kelompok makanan minuman dan tembakau ini.
“Pada April 2025 yang bertepatan dengan periode pasca Lebaran, inflasi disumbang oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga seiring normalisasi tarif listrik. Selain itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga turut menyumbang inflasi. Inflasi pasca Lebaran ini perlu diantisipasi,” katanya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang disiarkan melalui YouTube Kemendagri, Senin (20/4/2026).
Ateng Hartono mengungkapkan, pada tahun 2022 komoditas penyumbang inflasi itu adalah cabai merah, cabai rawit, bawang merah, telur ayam ras, tarif angkutan udara, tomat, rokok keretek filter, dan kangkung.
Sedangkan komoditas penyumbang deflasi pada tahun 2022 itu adalah daging ayam sap, ikan segar, minyak goreng, dan daging sapi.
Untuk komoditas penyumbang inflasi tahun 2023 di antaranya bawang merah, daging ayam ras, ikan segar, telur ayam ras, rokok keretek filter, bawang putih, sawi hijau, dan rokok putih.
"Sedangkan komoditas penyumbang andil deflasinya tahun 2023 yaitu angkutan udara, cabai merah, angkutan antar kota, dan cabai rawit," ucap Ateng.
Ateng Hartanto melanjutkan, pada tahun 2024 komoditas penyumbang inflasi yaitu emas perhiasan, bawang merah, cabai merah, sigaret keretek mesin, bawang putih, telur ayam ras, gula pasir, kol putih atau kubis.
Untuk komoditas penyumbang deflasinya yaitu beras, daging ayam ras, tarif angkutan antar kota, dan ikan segar.
Sedangkan pada tahun 2025, komoditas penyumbang inflasi yaitu tarif listrik, emas perhiasan, bawang merah, cabai merah, tomat, bawang putih, jeruk, dan kelapa.
Komoditas penyumbang deflasinya antara lain cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bensin.
"Pada momen pasca Lebaran, komoditas yang sering muncul sebagai penyumbang inflasi tertinggi adalah bawang merah, cabai merah, telur ayam ras, dan bawang putih. Sedangkan komoditas yang sering muncul sebagai penyumbang deflasi terdalam adalah daging ayam ras," jelasnya. (MNC/MCR)














