Pelawa

Hidup Tanpa Plastik

Pelawa Selasa, 13 September 2022 - 14:16 WIB  |    Reporter : Yusmar Yusuf   Redaktur : Purni  

SURATKABARGENTA.ID - Mungkinkah? Kita menggaulinya sejak pagi hingga malam. Dia menjadi teman hidup sejak kanak-kanak hingga tua renta. Wadah air mineral kemasan, media jus instan, pembungkus obat-obatan. Dia juga memanjakan ibu-ibu ke pasar, karena tak perlu susah payah menyimpan dan membawa tas khusus. Plastik juga jadi media para peritel kecil hingga pemilik waralaba untuk promosi dan identitas produk. Dia dijadikan kemasan pembungkus makanan jajan yang dijual di sekolah-sekolah hingga ke supermarket. Pikiran manusia hari ini hanya memaknai plastik sebagai sampah (waste), yang hanya tertumpu pada tas atau kantong keresek yang terbuat dari plastik.  Dari sini kisah tentang kehadiran plastik sebagai pembantu kehidupan hingga menjadi sampah kehidupan dimulai.

    Mereduksi efek plastik dalam kehidupan manusia? Karena timbunan plastik hari ini telah menjadi ancaman peradaban. Air sebagai sumber kehidupan. Kini badan-badan air telah penuh sesak ditimbun gerombolan plastik yang mampu membentuk koloni daratan baru, bahkan benua plastik. Segala hidupan atau biota air terancam punah. Biota itu sendiri adalah sumber gizi bagi keperluan tubuh jasadi kita. Kepunahan beberapa jenis biota yang disebabkan oleh plastik, sekaligus menjadi ancaman, apatah lagi keberlangsungan peradaban. Dari ihwal inilah komunikas peduli lingkungan menghentak kesadaran kita mengenai bahaya plastik di bumi. Kini sampah plastik sudah menjadi “terror” baru.

Semula dia bukanlah sampah. Dia dihajatkan untuk memudahkan manusia. Termasuk dalam urusan kesehatan (misalnya untuk pembungus obat dan operasi). Namun, ketika dia menumpuk dan memerlukan waktu hingga lebih dari 100 tahun untuk terurai, dia menjadi masalah bagi manusia. Dia tak sekedar sampah, sekaligus ancaman dan petaka peradaban. Itulah plastik. Awalnya hanya sekedar keresek yang dibawa ibu-ibu sepulang belanja di pasar. Lama kelamaan menumpuk dan menggunung. Ada yang sengaja dibuang di batang air, badan air dan lautan. Sampah plastik menggantung di tebing-tebing sungai, pantai, laut bahkan samudera. Dia tersangkut di akar kayu sepanjang tebing dan bahkan hinggap di pepucuk dedaunan di puncak gunung. Dia menghentikan aliran air di lembah-lembah, ikut mematikan biota air dan biota dalam tanah. Dia menyesakkan nafas manusia kala dibakar. Maka, di sini plastik menjelma jadi petaka dan bencana. Hari ini, gaya hidup dan cara pandang terhadap plastik harus diubah sejak dini. Kalau tidak, kita akan mengalami kiamat plastik. Satu bahan yang amat sulit terurai di permukaan bumi. Bahkan plastik bisa menenggelamkan sebuah kota beradab. Alhasil, dia mampu menenggelamkan sebuah peradaban.

Telah diiadakan gerakan anti kantong plastik di Indonesia. Kenapa? Karena negara ini adalah penyumbang sampah plastik yang dihanyutkan ke laut terbesar kedua setelah Cina. Ranking prestasi kah ini? Waw... ini rangking tentang kemunduran peradaban. Belum lagi tumpukan plastik yang menggunung di kawasan area pembuangan akhir di kota-kota besar. Manusia dan plastik seakan-akan memang berpembawaan sampah. Plastik itu sendiri sudah jelas sampah. Pun, manusia yang memproduksi plastik dengan alasan apapun sejatinya adalah makhluk sampah dan penyampah. Bumi yang begitu elok dan purna dihibah kepada kita, namun kita pula yang menghancurkannya dalam gaya masa bodoh dan serba belagak tak tau menahu. Berbanding dengan hewan? Maka hewan menghasilkan sampah sebagai sisa dari makanan, dan mudah terurai secara alami. Sebaliknya manusia memproduksi sampah, bisa bersumber dari sisa makanan, sisa gaya hidup, sisa bangunan, sisa pembangunan peradaban dalam segala bentuk dan skala, adalah sampah-sampah yang berkecenderungan memusnahkan dan menghancurkan lingkungan hidup itu sendiri. Di sini gaya hidup yang menonjolkan peran plastik dalam kehidupan sehari-hari perlu dikurangi, jika tak mampu mengakhirinya secara total. Wajah lingkungan hidup menjadi calar dan suram sepanjang produk plastik masih saja menghias kemajuan yang didefenisikan sebagai modernisasi oleh mesin-mesin mekanis (pabrik-pabrik yang memproduksi plastik) secara massif. Pabrik plastik atau plastik itu sendiri tidak perlu dimusnahkan, karena dia bersisian dengan keperluan manusia modern. Namun pemakaian dan pendaur-ulangannya yang harus dilakukan secara mangkus, sehingga dia tidak menjadi ancaman bagi peradaban manusia.

Gerakan anti kantong plastik, sejatinya telah dilakukan oleh komunitas, para pentolan dan aktivis lingkungan dan para pecinta lingkungan dalam ragam bentuk kelembagaan, baik profesional maupun lembaga swadaya. Per individu, terutama mereka yang lebih terdidik dan banyak berinteraksi dengan realitas lingkungan; termasuk pula para penyayang hewan, lebih jauh dan lebih dulu melakukan gerakan anti segala ihwal yang berbau plastik. Gerakan ini telah menadi dan menjadi gaya hidup. Warga perkotaan yang sadar akan petaka  sampah plastik, telah menyuarakan lewat media-media elektronik, media cetak. Gerakan ini lebih massif lewat jejaring media sosial yang menyapa setiap orang.   

Pun, ada kaum hippies yang mengharamkan pakaian dari bahan-bahan yang bersumber dari kulit dan bulu hewan. Malah, lebih ekstrim, muncul kelompok dan komunitas naturalis yang bergaya hidup bugil atau telanjang, yang dinaungi oleh fasilitas akomodasi dan ruang sosial sebagaimana ditemukan di Barat. Kaum naturalis ini bertolak dari anggapan bahwa untuk menyayangi lingkungan dan bumi, salah satu jalan yang harus ditempuh adalah menghindari mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan-bahan alam. Dari sini muncul hotel dan resort yang menampung gaya hidup bugil, pantai, kawasan hutan dan pegunungan yang menerima kaum bugil lelaki dan perempuan, bugil untuk anggota keluarga. Di sini, bugil menjadi gaya hidup. Mereka menjalani hidup sehari-hari bak primata, berjalan dan bermain-main di pantai dalam rombongan dengan cara berbugil ria. Sayang lingkungan juga kah? Mereka menjadi penyayang lingkungan dengan cara menanggalkan segala yang melekat di badan. Duhaii... Entahlah...  

Kehidupan nir-plastik? Agaknya tak berlebihan, jika hiruk pikuk di kalangan orang dewasa saat ini, juga diwariskan menjadi demam positif ini kepada kanak-kanak. Sosialisasi gerakan anti plastik ini bisa melalui lembaga OSIS dan pramuka sekolah. Pramuka lingkungan yang diawali dengan cara menghimpun anak-anak para pedagang dan penjual komoditi di pasar: penanaman nilai tentang anti plastik. Dengan begitu jalaran nilai dan pesan yang hendak disampaikan pemerintah atau LSM pro green, akan lebih efektif. Sebab, yang digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan itu adalah anak-anak mereka sendiri (anak para pedagang atau malah cucu) mereka. Kemudian para anak dan cucu inilah yang menyapa para kakek dan nenek pedagang. Selain itu, menggelorakan kembali semangat kepada ibu-ibu yang membawa sendiri tas-tas bersuasana raga (dalam format jaring/net) bila pergi berbelanja ke pasar, tentulah menjadi sebuah lelaku berkaidah. Lewat gairah baru  ini, akan melahirkan para desainer, khusus merancang corak tas dalam industri kreatif. Paling tidak, muncul satu kreativitas baru dalam bisnis. Tak perlu membugilkan diri dari plastik.***

Laporan : Yusmar Yusuf
Redaktur : Purni





Berita Lainnya