Pertama Kali Bangkai Paus Terdampar di Inhil, KKP Kirim Sampel Darah ke BRIN untuk Pastikan Jenisnya

Indragiri Hilir Selasa, 29 September 2026 - 20:39 WIB  |   Redaktur : Zulkifli Ali  
Pertama Kali Bangkai Paus Terdampar di Inhil, KKP Kirim Sampel Darah ke BRIN untuk Pastikan Jenisnya

Tim gabungan beberapa instansi setempat sedang mengevakuasi bangkai paus.

SURATKABARGENTA.ID, PEKANBARU – Untuk pertama kali ikan paus ditemukan terdampar di perairan Sungai Bahale, Desa Bente, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Namun hingga saat ini belum diketahui jenis pausnya.

Guna memastikan hal itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan mengirimkan sampel darah mamalia laut tersebut ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta. Selain itu, foto dan video ikan nahas tersebut, juga menjadi pendukung untuk menidentifikasi. Hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan selesai sekitar satu bulan.

Sefriyanto Permana selaku Penata Kelautan dan Perikanan KKP mengatakan, identifikasi belum dapat dilakukan secara pasti hanya berdasarkan foto maupun pengamatan langsung di lokasi penemuan.

bangkai

bangkai

Tangkapan layar dari video warga yang viral di medsos memperlihatkan bangkai paus dalam kondisi terbalik. 

"Kita belum bisa menyimpulkan dugaan paus jenis apa. Untuk memastikan jenisnya, kita sudah mengambil sampel darah untuk diperiksa BRIN di Jakarta. Mudah-mudahan satu bulan mendatang sudah diketahui hasilnya," kata Sefriyanto, Senin (28/9/26).

Ia mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan BRIN dan merencanakan pengiriman sampel untuk pemeriksaan lebih lanjut. "Kita sudah kontak pihak BRIN-nya, besok rencananya kita kirim sampelnya," lanjut dia.

Menurut Sefriyanto, kondisi bangkai saat ditemukan menjadi salah satu kendala dalam proses identifikasi. Tubuh paus tersebut sudah dalam posisi terbalik dan mengalami pembusukan sehingga sulit diamati secara menyeluruh.

Selain itu, keterbatasan peralatan di lapangan membuat petugas tidak dapat membalikkan tubuh paus untuk melihat bentuk fisiknya secara utuh. Terutama bagian kepala yang menjadi salah satu petunjuk penting dalam mengenali jenis paus.

Kondisi tubuh yang sudah membengkak dan melunak akibat pembusukan juga menyulitkan pengamatan karakteristik fisik satwa tersebut.

Peristiwa serupa juga pernah dilaporkan terjadi di Palembang. Namun untuk membandingkan kedua kejadian tersebut, diperlukan informasi lebih lanjut mengenai jenis paus, kondisi bangkai, lokasi penemuan, dan faktor yang melatarbelakanginya.

Karena itu, hasil identifikasi BRIN nantinya diharapkan tidak hanya memastikan jenis paus yang ditemukan di Mandah. Tetapi juga menjadi salah satu bahan untuk menelusuri lebih lanjut kondisi satwa tersebut sebelum terdampar.

Bangkai paus berukuran sekitar 8 meter dengan berat diperkirakan 4 ton ditemukan tersangkut di antara pohon bakau. Bangkai tersebut ditemukan warga pada Rabu, 23 September 2026 dan kemudian dievakuasi oleh tim gabungan.(z/mcr)

Redaktur : Zulkifli Ali





Berita Lainnya