Seputar Kampus

Jaga Marwah Akademik, Pengurus Pusat IKA Unri Minta Kampus Bebas dari Intervensi Ormas

Prov. Riau Jumat, 24 Juli 2026 - 08:23 WIB  |    Reporter : Maudhi NC   Redaktur : Fithriady Syam  
Jaga Marwah Akademik, Pengurus Pusat IKA Unri Minta Kampus Bebas dari Intervensi Ormas

Pengurus Pusat IKA UNRI, Muhammad Rustam mengimbau seluruh calon rektor untuk menjaga independensi kampus dengan tidak melibatkan ormas dalam proses pemilihan pimpinan perguruan tinggi. (Dok Unri)

SURATKABARGENTA.ID, PEKANBARU – Kampus harus tetap menjadi ruang akademik yang independen, terbuka, dan menjunjung tinggi kebebasan berpikir serta kebebasan akademik.

Hal tersebut disampaikan Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni Universitas Riau (Unri) Muhammad Rustam, terkait keberadaan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang turut mendukung proses pemilihan rektor di lingkungan kampus.

“Pada prinsipnya, saya tidak anti terhadap ormas. Ormas merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi dan masyarakat sipil. Namun, ketika masuk ke lingkungan kampus, seluruh aktivitas harus menghormati independensi perguruan tinggi, aturan kampus, serta kebebasan mahasiswa dalam menentukan pilihan organisasinya,” ujar Muhammad Rustam, dalam siaran pers kepada media, Kamis (23/7/2026).

Ia menegaskan, jangan sampai keberadaan ormas di kampus justru menimbulkan intervensi, tarik-menarik kepentingan, atau mengganggu proses akademik dan kehidupan demokrasi mahasiswa.

Kampus harus menjadi tempat mahasiswa belajar, berdiskusi, melakukan riset, dan mengembangkan gagasan secara bebas dan bertanggung jawab.

Rustam juga menekankan bahwa seluruh calon pimpinan perguruan tinggi, tanpa terkecuali, harus memiliki komitmen yang sama untuk menjaga kampus tetap independen dan bebas dari intervensi organisasi eksternal.

Menurutnya, siapapun yang nantinya dipercaya memimpin universitas harus mampu memastikan bahwa kampus tidak menjadi ruang bagi masuknya kepentingan ormas atau organisasi kemasyarakatan yang dapat mempengaruhi kebijakan, proses akademik, maupun kehidupan kemahasiswaan.

“Pesan saya kepada semua calon pimpinan kampus, jangan meminta dukungan kepada ormas untuk kepentingan kandidasi dan berpotensi menguasai ruang-ruang kampus. Kampus harus menjadi rumah bersama bagi seluruh civitas akademika, bukan menjadi ruang bagi kepentingan organisasi tertentu. Siapa pun yang terpilih nantinya harus berani menjaga batas yang jelas antara kehidupan kampus dan kepentingan organisasi eksternal,” tegas Rustam.

Menurutnya, mahasiswa harus diberikan kebebasan untuk menentukan pilihan organisasi dan aktivitas kemahasiswaannya tanpa tekanan maupun pengaruh dari pihak eksternal. Kampus harus mampu menjamin bahwa setiap mahasiswa memiliki hak yang sama untuk belajar, berorganisasi, menyampaikan pendapat, dan mengembangkan potensi dirinya.

Rustam juga menilai bahwa setiap dukungan eksternal terhadap calon pimpinan perguruan tinggi perlu dilihat secara transparan dan objektif. Menurutnya, sivitas akademika berhak mengetahui rekam jejak, visi, serta komitmen setiap calon pemimpin kampus tanpa adanya tekanan atau intervensi dari pihak luar.

“Jangan sampai muncul persepsi di tengah masyarakat bahwa ada kepentingan tertentu di balik dukungan terhadap calon rektor. Kalau memang ada dukungan dari tokoh atau pihak eksternal, semuanya harus terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Jangan sampai ada dugaan atau spekulasi mengenai kepentingan tertentu, termasuk kemungkinan adanya kepentingan ekonomi atau proyek di belakang proses tersebut,” katanya.

Menurut Rustam, transparansi menjadi penting agar proses pemilihan rektor benar-benar berjalan secara independen, demokratis, dan berdasarkan kapasitas serta integritas calon. Ia meminta seluruh pihak untuk mengedepankan kepentingan kemajuan perguruan tinggi dan menghindari segala bentuk intervensi yang dapat mencederai marwah akademik.

“Kita harus menjaga agar pemilihan rektor tidak dipengaruhi kepentingan politik maupun kepentingan kelompok tertentu. Yang harus menjadi ukuran adalah kompetensi, integritas, rekam jejak, dan kemampuan calon dalam membawa universitas menjadi lebih maju,” ujarnya.

Rustam kembali menegaskan bahwa komitmen menjaga independensi kampus harus menjadi sikap bersama seluruh calon pimpinan perguruan tinggi. Menurutnya, siapa pun yang terpilih harus mampu menjadi pemimpin bagi seluruh sivitas akademika, bukan mewakili kepentingan organisasi atau kelompok tertentu.

Menurut Rustam, keterlibatan organisasi eksternal tetap dapat dilakukan sepanjang sesuai dengan regulasi dan kebijakan masing-masing perguruan tinggi, serta tidak menghilangkan otonomi kampus dan integritas kelembagaan perguruan tinggi.

“Yang paling penting adalah menjaga kampus tetap sebagai rumah intelektual. Ormas boleh berkontribusi dalam pengembangan pendidikan, sosial, dan kemasyarakatan, tetapi jangan sampai independensi kampus dan kebebasan akademik mahasiswa dikorbankan. Kepada semua calon pimpinan kampus, saya berharap memiliki komitmen yang sama: jaga kampus dari intervensi ormas dan kepentingan kelompok mana pun,” tutup Muhammad Rustam. (MNC/SP)

Laporan : Maudhi NC
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya