Seputar Kampus

Kolaborasi FISIP Unri-Malaysia Dorong Gambut Tetap Lestari, Ekonomi Menguat

Prov. Riau Senin, 14 September 2026 - 12:08 WIB  |    Reporter : Maudhi NC   Redaktur : Fithriady Syam  
Kolaborasi FISIP Unri-Malaysia Dorong Gambut Tetap Lestari, Ekonomi Menguat

FISIP Unri dan SHGSU Malaysia memperkuat kerja sama Indonesia-Malaysia dalam pengelolaan gambut dan pengembangan ekonomi masyarakat. (Dok FISIP Unri)

SURATKABARGENTA.ID, MALAYSIA – Pengelolaan lahan gambut mulai diarahkan bukan hanya untuk menjaga kelestarian hutan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan masyarakat. Gagasan tersebut menjadi salah satu fokus kolaborasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau dengan Pertubuhan Sahabat Hutan Gambut Selangor Utara (SHGSU), Malaysia.

Kolaborasi Indonesia-Malaysia itu berlangsung melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Internasional selama dua hari, 10-11 September 2026. Mengangkat tema “Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan untuk Penguatan Ekonomi Masyarakat”, kegiatan tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman mengenai cara menjaga ekosistem sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.

Delegasi FISIP Unri terdiri atas Dr. Lie Othman, M.Si. dan Dr. Zulkarnaini, M.Si. Sementara SHGSU dipimpin Dr. Yusman Istihat.

Pertukaran pengetahuan mencakup perlindungan hutan, pencegahan degradasi dan kebakaran, pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat, hingga pengembangan mata pencaharian yang tidak merusak lingkungan.

Bagi FISIP Unri, pendekatan tersebut penting karena keberhasilan pengelolaan gambut tidak cukup hanya diukur dari terjaganya kawasan hutan. Kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan juga perlu menjadi bagian dari strategi pengelolaan.

Dr. Zulkarnaini mengatakan kepentingan ekologis dan ekonomi masyarakat harus berjalan beriringan dalam pengelolaan lahan gambut.

"Pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan harus mampu mempertemukan kepentingan ekologis dengan kepentingan ekonomi masyarakat. Karena itu, pertukaran pengalaman antara Indonesia dan Malaysia menjadi penting untuk menemukan model pengelolaan yang adaptif, kolaboratif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujarnya.

Persoalan gambut yang dihadapi Indonesia dan Malaysia dinilai memiliki sejumlah kemiripan. Mulai dari ancaman kebakaran dan degradasi lahan, hingga kebutuhan untuk melibatkan masyarakat dalam menjaga kawasan.

Karena itu, kunjungan delegasi FISIP Unri ke Hutan Simpan Raja Musa menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Di kawasan gambut yang dikelola dan didampingi SHGSU itu, delegasi melihat langsung praktik perlindungan ekosistem sekaligus berdiskusi mengenai tantangan pengelolaan di lapangan.

Selain aspek konservasi, pembahasan diarahkan pada bagaimana masyarakat dapat memperoleh sumber penghidupan yang lebih berkelanjutan. Penguatan kapasitas, kelembagaan lokal, dan aktivitas ekonomi yang ramah lingkungan menjadi bagian dari pendekatan yang dibahas kedua pihak.

Dr. Lie Othman menilai pembelajaran lintas negara dapat memperkaya cara pandang dalam menangani persoalan lingkungan.

Sementara Dr. Yusman Istihat menyambut positif kerja sama tersebut. Menurutnya, pertemuan antara akademisi dan organisasi masyarakat dari kedua negara dapat memperluas jejaring sekaligus membuka peluang pertukaran pengalaman dalam pengelolaan gambut.

Ke depan, kerja sama FISIP Unri dan SHGSU tidak hanya diarahkan pada kegiatan pengabdian. Kedua pihak juga membuka peluang kolaborasi dalam riset, pertukaran mahasiswa dan akademisi, publikasi ilmiah, serta pengembangan jejaring pengelolaan gambut Indonesia-Malaysia.

Kolaborasi tersebut diharapkan melahirkan pendekatan pengelolaan gambut yang tidak mempertentangkan kelestarian lingkungan dengan kepentingan ekonomi masyarakat.

Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan gambut dapat tetap terlindungi sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya. (MNC/SP)

Laporan : Maudhi NC
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya