(Polisi Satwa K-9 yang Gugur Cari Jenazah Galodo Sumbar)

Tubuh Diselimuti Kain Merah Putih, Reno Dikubur Secara Kedinasan Dua Polda di Sumatera

Daerah Senin, 29 Desember 2025 - 15:30 WIB  |    Reporter : Fithriady Syam   Redaktur : Purnimasari  
Tubuh Diselimuti Kain Merah Putih, Reno Dikubur Secara Kedinasan Dua Polda di Sumatera

Musibah banjir dan longsor di Aceh, Sumut dan Sumbar membawa duka nan mendalam. Kepolisian, TNI, SAR, komunitas dan relawan berjibaku memberikan pertolongan kepada masyarakat terdampak. (Foto Dok Polda Riau)

Laporan : Fithriady Syam

Siska, seorang ibu paru baya menangis tersedu-sedan di hadapan Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Vasko Ruseimy. Kesedihannya amat mendalam. Suaminya sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Makin memuncak, tatkala putri keduanya yang berusia 3 th masih hilang. Mereka tersapu banjir dan tanah longsor atau lebih dikenal dengan sebutan Galodo. Musibah yang jadi Duka Sumatera ini datang tiba-tiba Kamis, 27 November lalu.

‘’Sebagai ibu, hanya ingin peluk ciumnya terakhir kali. Sampaikan maaf kepadanya. Maaf kalau Umi terlalu keras dengan kamu dulu nak,’’ katanya sambil menahan air mata yang terus tumpah.

Permintaan Siska hanya satu, mohon diturunkan anjing pelacak. Berjibaku bersama personil kepolisian, TNI, relawan dan masyarakat, beberapa hari, anjing pelacak atau yang biasa disapa K-9 ini berhasil menemukan puluhan jenazah dalam tumpukan kayu, batu dan lumpur.

Dalam suasana kebathinan tak menentu, Siska terus berharap. Sudah beberapa hari terakhir, dia berikhtiar menyusuri puing-puing di daerah Lumin, Kota Padang. Setiap detik terasa pilu, sedih dan perih. Karena naluri hati seorang ibu yang tak akan pernah menyerah untuk menemukan sibuah hatinya.

Wagub Vasko merespon cepat. Menghubungi langsung Kapolda Sumbar dan Kapolda berjanji menyanggupi permintaan itu.

Duka Sumatera, Galodo di Jembatan Kembar

Detik-detik menentukan itu tiba. Kamis siang menjelang petang. Tiba-tiba air mencurah tak terbendung. Kayu, batu, tanah longsor, sisa-sisa tebangan hutan menggelinding di beberapa sungai di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumbar. Siklon curah hujan lebat ini sudah berlangsung dalam 4-5 hari terakhir.

Pemandangan yang sebelumnya hanya ada di film-film, kini betul-betul terjadi di dunia nyata. Duka mendalam tak bisa dihindari. Alam mulai marah, akibat tangan jahil manusia. Tak ada yang bisa membantah hal itu.

Salah satu daerah terdampak yang paling parah dan banyak menimbulkan korban jiwa adalah Jembatan Kembar di Kelurahan Silaing Bawah, pintu masuk Kota Padang Panjang, yang menghubungkan jalur Padang-Bukittinggi, Sumbar.

Galodo, banjir bandang yang membawa batu, lumpur dan pepohonan, seketika menghantam jembatan itu. Sekitar lokasi ini jadi persinggahan favorit kendaraan menuju kota Padang dan sebaliknya. Maklum, tempatnya sejuk, pemandangan indah, dan banyak kedai-kedai berjejer di tepian aliran sungai yang menyediakan kopi dan makanan hangat.

Tragisnya, tiba-tiba saja suara jeritan terdengar di mana-mana. Sekitar 50-60 orang yang berteduh di lokasi ini, tersapu galodo. Membawa semua yang dihadapinya. Dari hulu sungai menerjang jembatan, menimbun jalan nasional, menghanyutkan korban, menghantam kendaraan, merusak warung dan permukiman di sekitar lokasi.

Tak lama berselang, berita duka diterima Kepolisian Daerah (Polda) Riau. Dua anggota kepolisian Brigadir Tri Irwansyah (32) dan Ipda Angga Mufajar (36) ikut terkena musibah. Personil Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) ini melaksanakan tugas kedinasan ke Padang. Saat bencana datang, keduanya berada di tempat itu.

Kawan-kawan sejawat di Polda Riau bersiap untuk menuju lokasi secara langsung. Peristiwa Kamis sekitar pukul 11.52 WIB itu telah menelan banyak korban jiwa. Bersama puluhan warga, keduanya diduga tertimbun material longsor dan lumpur.

"Jenazah Tri Irwansyah telah dievakuasi dan dibawa ke RS Bhayangkara Polda Sumatera Barat untuk proses identifikasi," ujar Kabid Humas Polda Riau Kombes Anom Karibianto, Jumat (28/11/2025) malam.

Info beredar, keduanya berada di lokasi itu karena sedang istirahat sambil menunggu hujan lebat reda. Kendaraan yang mereka tumpangi, minibus hitam Toyota Innova Reborn bernomor polisi BM 1370 AAJ, ditemukan rusak dan tertimbun lumpur tak jauh dari Jembatan Kembar.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Peristiwa ini masih menyisakan luka bagi keluarga Ipda Angga yang hingga saat ini belum ditemukan. Pencarian personil Ditreskrimum sudah dilakukan dengan berbagai upaya. Menyisir sejumlah lokasi mulai dari Lembah Anai hingga Muara Padang Pariaman. Jauhnya hingga puluhan km.

Keluarga minta tim penyelamat untuk terus melakukan pencarian. “Kami keluarga besar Ipda Angga beserta istri mengajukan permohonan kepada Tim SAR dan Polri maupun instansi lainnya untuk tidak menghentikan pencarian. Minimal sampai satu bulan setelah kejadian bencana,” jelas kakak kandung korban, Poppy Rahmadini, Ahad (14/12/2025) dengan raut wajah sedih.

Dikatakan Poppy, adiknya tetap berangkat memenuhi panggilan tugas meskipun waktu itu ada himbauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk waspada dalam perjalanan ke Sumatera Barat.

“Adik kami ini ditugaskan justru saat ada larangan dari BMKG untuk perjalanan ke Sumatera Barat. Selaku abdi negara dirinya tetap berangkat meski harus mengambil risiko, tidak mengindahkan himbauan BMKG. Bagi Polri ataupun orang lain, adik kami mungkin tidak ada harganya, tapi bagi kami, bagi anak-anak dan istri, rasa kehilangan ini tidak akan ada obatnya,“ jelas Poppy.

Poppy mewakili Keluarga Besar Ipda Angga Mufajar, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak. Baik yang terlibat langsung maupun tak langsung mulai dari Babinsa Rian, Tim SAR, jajaran Polri terkhusus pihak Polda Riau dan Polres Kampar serta pihak media yang meyebarkan informasi. Termasuk semua komunitas yang sudah membuat kegiatan doa bersama dan semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

‘’Jika dengan izin Allah adik kami ditemukan oleh warga, maka akan diangkat menjadi saudara. Tidak ada nilai yang pantas dibayarkan bila dibanding semua pertolongan yang diberikan dalam upaya pencarian adik kami,’’ jelasnya.

Proses pencarian ini memang sangat sulit. Tumpukan material banjir dan longsor mencapai 7 meter.

“Kami sudah 15 hari melakukan pencarian di lokasi kejadian, tetapi Angga tidak kami temukan," kata Kompol Asdisyah Mursyid, selaku Ketua Tim (Katim) pencarian kepada wartawan.

Pencarian Angga dilakukan oleh personel Polres Kampar dan Polda Riau. Upaya pencarian dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari menyusuri sungai, menggali tanah, dan bongkahan batu.

"Fokus pencarian dari titik longsor di Jembatan Kembar menyusuri aliran Sungai Batang Anai sepanjang lebih kurang 60 kilometer," sebut Asdisyah, yang juga Kapolsek Kampar. Karena sudah tak memungkinkan untuk ditemukan, pencarian pun dihentikan.

Rasa pilu mendalam. Seketika, puluhan polisi, relawan, tim SAR larut dengan linangan air mata. Sebelum meninggalkan lokasi pencarian, rekan-rekan Ipda Angga, Tim Ojoloyo Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Kampar, memberikan penghormatan terakhir dari atas jembatan. Mereka pernah sama-sama bertugas di Satresnarkoba Polres Kampar. Rekan-rekannya tampak tak kuasa menahan tangis. Berdoa, menengadahkan tangan, melihat ke sungai, sambil memberikan penghormatan terakhir. Mereka juga menaburkan bunga dan melambaikan tangan.

"Selamat tinggal kawan. Kami doakan tenang di sana," ucap salah seorang anggota polisi terisak.
Mereka pamit pulang, meninggalkan jejak perjuangan, doa-doa tulus, air mata yang tak terbendung, dan harapan yang belum sepenuhnya terwujud.

Reno, Mengabdi Hingga Nafas Terakhir

Pertanyaannya, mengapa Reno selalu disebut-sebut bersama ratusan korban jiwa lainnya, mengapa dia layak dihormati? Reno seekor anjing pelacak Polda Riau jenis Belgian Malinois. Berusia 8 tahun 4 bulan. Umur ini setara 49 tahun umur manusia. Dengan skill yang terlatih di K-9, Reno sudah berpengalaman mengungkap beberapa kasus di Riau. Tatkala Duka Sumatera terjadi, dia masuk daftar prioritas untuk dikirim ke Kabupaten Agam, Sumbar, bersama 290 personel gabungan Polda Riau, Sabtu 29 November 2025.

Setibanya di lokasi, Reno langsung menjalankan keunggulannya di titik longsor. Bergerak lincah, menyusuri puing-puing dan tanah amblas untuk mencari korban yang hilang. Sekira pukul 12.30 WIB, satwa yang memiliki indera penciuman tajam ini mendadak lemas dan tumbang.

Tak bisa dinyana, dalam situasi itu, Reno tiba-tiba pingsan. Diduga karena sakit. Satwa ini kemudian dievakuasi ke klinik hewan terdekat. Dalam proses medis, Reno dinyatakan mati, Ahad, 30 November 2025. Polda Riau merasakan kehilangan mendalam.

Kombes Anom Karibianto menjelaskan anjing pelacak itu mati dalam menjalankan tugas. Reno terlibat aktif mencari korban hilang akibat bencana longsor dan banjir.

‘’Prajurit setia mengabdi hingga nafas terakhir,’’ ujar Anom lagi.

Reno –hingga kini-- menjadi satu-satunya anjing pelacak yang mati saat bertugas di Musibah Sumatera. Dia berpulang saat menjalankan misi kemanusiaan di Palembayan, Agam, Sumbar. Salah satu daerah terdampak yang paling parah.

Berita kematian ini menyebar seluruh Indonesia. Matinya anjing ini diunggah akun instagram @baharkam_polri, Sabtu 6 Desember 2025. Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam) Polri menjelaskan, anjing dengan nama Reno gugur di lokasi bencana. Netizen dan publik membanjiri ucapan duka cita.

Reno merupakan satwa operasional Polri di garda terdepan misi kemanusiaan. Dia merupakan anjing K-9 spesialis search and rescue (SAR).

"Reno gugur dalam tugas negara saat membantu operasi kemanusiaan. Dedikasinya patut diteladani. Kami seluruh keluarga besar Polda Riau menyampaikan rasa kehilangan yang sangat mendalam," ujar Anom lagi dengan suara lirih.

Atas jasa-jasanya selama ini, pemakaman Reno dipimpin oleh Direktur Samapta Polda Riau, Kombes Syahrian M Abdi. Tubuhnya diselimuti kain merah putih saat dimasukan ke liang kubur. Polri berduka, Reno dikuburkan dalam upacara resmi oleh dua Polda sekaligus yaitu Polda Riau dan Sumbar.

"Sebagai bentuk penghormatan, Satwa K-9 Reno dimakamkan secara kedinasan. Reno adalah bagian dari keluarga besar Polda Riau. Pengabdiannya tercatat sebagai kehormatan bagi institusi Polri," ujarnya disela-sela pemakaman.

Kombes Anom juga menegaskan Polda Riau selalu menempatkan satwa K-9 sebagai bagian penting dalam operasional kepolisian, khususnya dalam tugas-tugas kemanusiaan, penegakan hukum, dan SAR.

"Selamat jalan Reno. Pengabdianmu menjadi kehormatan bagi kami dan akan selalu dikenang," sebut Anom lagi.

Perjalanan Panjang Anjing Pelacak K-9

Penggunaan anjing terlatih membantu kepolisian, sudah ada sejak lama. Contoh terkenal pada kasus Jack the Ripper di London tahun 1899. Dalam perkembangannya, sekitar 1970-an terjadi peningkatan penggunaan anjing pelacak di kepolisian dunia, dengan sistem handler (pawang) dan anjing yang terintegrasi. Ras anjing yang umum digunakan seperti German Shepherd (Herder), Belgian Malinois (Mali), Labrador Retriever, Beagle, dan Doberman.

Di Indonesia, sekitar 1950-an, Kepolisian Karesidenan Malang mendapat hibah dua ekor anjing Herder terlatih dari pengusaha Belanda. Dia sukses digunakan untuk melacak kasus kriminal. Atas kesuksesan itu, Tahun 1959 Brigade Anjing Polri dibentuk di Cimanggis, Depok, berdasarkan surat keputusan Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian.

Perjalanan panjang dimulai. Sekitar 1970-an nama Brigade Anjing berganti-ganti menjadi Brigade Satwa, Satuan Utama Satwa, hingga Sub Direktorat Satwa Polri. Terus berkembang. Tahun 1980-an Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mulai mengirim personel ke Front Royal Virginia, AS tahun 1978-1981 dan membawa pulang anjing K-9 terlatih.

Untuk pertama kalinya, dua orang asal Indonesia berlatih dengan anjing jenis Labrador Retriever dan enam ekor anjing gembala Jerman. Pendek cerita, dibentuklah Unit Anjing Pelacak K-9 pada 1981 untuk pengawasan narkotika.

Seiring waktu dan perkembangan modern, unit K-9 berkembang di berbagai lembaga seperti Polri (sekarang Direktorat Polisi Satwa) dan BNN, membantu berbagai kasus kriminal dan SAR.

Penamaan unit K-9 agar mudah diucapkan dan menjadi istilah standar untuk anjing pelacak di seluruh dunia. Sebutan K-9 bukan akronim, melainkan istilah dalam dunia fauna yang berasal dari kata Canine. Nama Canine atau Caninae bukanlah tentang anjing saja, melainkan bisa juga merujuk pada Coyote atau anjing hutan.

Kendati demikian, Canine memang sangat identik dengan jenis anjing yang cerdas. Jumlahnya pun tak banyak, hanya puluhan ekor saja.

‘’Pada umumnya, K-9 di sini mempunyai kemampuan untuk membantu tugas-tugas kepolisian," kata PS Kasubden Caksus Ditpolsatwa Korsabhara Baharkam Polri, AKP Nuryani kepada media, Rabu (10/12/2025) lalu.

Balik ke pangkal kisah. Musibah Sumatera ini menyisakan momen-momen kedekatan dan humanis, sesama personil polisi dan tim SAR, termasuk dengan anjing pelacak. Sama-sama berjuang di lokasi nan ekstrem. Kondisi ini menangkap esensi kerja keras, kepedulian, dan risiko yang dihadapi di garis depan.

Dalam tiap tugas, tim kesehatan terikat langsung dengan petugas penyelamat, yang tampak lelah namun penuh perhatian. Begitu juga dengan pawang K-9, berhenti sejenak untuk memberikan air minum kepada anjing pelacaknya. Di atas bebatuan sungai yang licin dan di bawah sorot mata rekan-rekan se-tim, dengan sabar menuangkan air ke telapak tangannya agar anjingnya dapat minum. Juga mengendong atau memandu dengan hati-hati saat melintasi sungai, tumpukan kayu, batu yang berbahaya. Ini menunjukkan bahwa, tugas bukan hanya tentang mencari, tetapi tentang melindungi dan menghargai setiap nyawa, baik manusia maupun mitra setia mereka.

Tindakan sederhana ini lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan dasar. Ini adalah personifikasi nyata dari ikatan dan rasa saling percaya yang mendalam antara manusia dan hewan. Sama-sama mempertaruhkan nyawa demi menemukan korban yang hilang.

Kisah Reno di Duka Sumatera ini adalah pengingat yang kuat bahwa disaat-saat paling gelap, cahaya kemanusiaan dan kesetiaan akan selalu hadir. Tim polisi, sukarelawan dan anjing adalah simbol harapan bagi masyarakat yang terdampak.

Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan menyampaikan apresiasi khusus kepada unit anjing pelacak (K-9) atas peran penting di barisan terdepan musibah Sumbar, Sumut dan Aceh.

"Mereka (anjing pelacak, red) pahlawan yang bekerja dalam senyap. Tanpa pamrih, tanpa menuntut balasan. Dari mereka, kita belajar arti pengabdian dan kesetiaan. Tuhan mengajarkan nilai-nilai luhur, bahkan melalui makhluk-Nya yang bekerja tanpa kata," ujarnya.

Irjen Herry menegaskan pengabdian satwa K-9 harus menjadi motivasi bagi seluruh personel Polda Riau dalam menjalankan tugas melayani dan melindungi masyarakat.

"Jika seekor anjing mampu berkorban demi tugas dan kemanusiaan, maka kita pun harus mampu menjaga amanah melindungi sesama dan merawat alam. Terima kasih, para pejuang K-9. PengabdianMu tak bersuara, namun bermakna selamanya," sebut jenderal bintang dua ini.

Reno hanya seekor satwa yang terlatih. Sama dengan personil polisi lainnya dengan latihan setiap waktu. Tapi siapa sangka, ketika dia gugur di lokasi bencana, begitu banyak yang kehilangan. Semua tertunduk, terisak dan air mata yang terus mengalir. Teringatlah kita dengan bait pantun Melayu yang melegenda.

Pisang emas dibawa berlayar

Masak sebiji di dalam peti

Hutang emas bisa dibayar

Hutang budi dibawa mati."

Fithriady Syam, Wartawan surakabargenta.id, bermastautin di Pekanbaru, Riau.

Laporan : Fithriady Syam
Redaktur : Purnimasari





Berita Lainnya