Panggung Teater Persembahan PHR untuk Bandar Bakau Dumai

Laporan: Eka Kurniawati
“Saya dapat rezeki pukal, Bahasa melayunya beso. Saya dapat dari Pertamina Hulu Rokan (PHR). Kemarin kami juga dibawa ke luar kota mengikuti pelatihan. Ini sangat berguna untuk membuka pikiran dan menambah ide mengembangkan kawasan hutan Bandar Bakau Dumai.”
Darwis, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Bandar Bakau Dumai, melalang buana keliling kabupaten kota yang ada di Riau, bercerita bagaimana cara merawat hutan mangrove.
Kepada awak media yang sedang melakukan ekspedisi ke Bandar Bakau, Pria berusia 57 tahun ini bercerita bagaimana perkembangan Bandar Bakau yang dulunya infrastruktur minim sekali, hingga berkembang menjadi lokasi edu ekowisata.
Dahulu KTH ini diwujudkan oleh Non Governmental Organization (NGO). Namanya Pecinta Alam Bahari Klub. “Saya salah satu pendiri NGO ini tadi,” ujar Darwis.
Tak lama berselang, Covid19 memukul dunia wisata khususnya Kota Dumai. “Masuk Covid, makin buruk lagi kami. Lalu di tengah putus asaan itu, kami mendapatkan suatu kolaborasi yang tidak hanya bercerita uang dengan PHR,” ungkapnya.
Dibantu Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Darwis coba berbenah. Dengan segala pertimbangan, akhirnya Darwis menemukan sistem birokrasi yang disepakati dengan tidak menerima uang untuk keperluan pribadi.
“Artinya saya sepakat ini, kalau menerima uang, ini komplet,” ujar Darwis.
Darwis menyebutkan dahulu Bandar Bakau ceritanya selalu berputar sekitar uang. “Bandar Bakau ini sebelumnya cerita uang, uang saja. Artinya ini sudah bantu, ini sudah bantu. tetapi bukan saya, karena Bandar Bakau ini pejuangnya sangat banyak,” sebutnya.
Ada dua kelompok menurut Darwis yang berjasa memperjuangkan Bandar Bakau. Yakni media dalam hal ini wartawan dan kelompok kesenian.
Kendala yang kerap dihadapi Darwis dalam mengelola Bandau Bakau terkait manajemen. dia mengaku kewalahan mengatur sumber daya manusia dalam konteks Parwisata.
“Hutan ini tidak boleh ditinggali. Tetapi seperti Dinas Sosial. Mengapa itu bisa terjadi? Timbulnya orang-orang lokal. Dia membeking-beking. Bahkan ada timbul tiket palsu, ada tiket apa. Ini sangat mengganggu,” tegas Darwis.
Darwis tidak mendukung Hutan Bakau dijadikan objek wisata untuk melindungi ekosistem. Dia khawatir nantinya banyak sampah yang berserakan disebabkan wisatawan yang kurang kesadaran menjaga kebersihan lingkungan.
“Tapi kalau misalnya dari sekolah ini, SD ini berkunjung, boleh. Tapi masukkan surat. Ini sudah terjadi hingga saat ini,” terangnya.
Dari 2023 sampai saat ini, sudah ada ribuan orang yang mengunjungi Bandar Bakau dengan tujuan edukasi. Kunjungan ini meningkat setelah infrastuktur di Bandar Bakau terus membaik. Diantaranya dengan dibangun panggung teater oleh PHR.
Panggung teater selain dimanfaatkan Darwis sebagai tempat memberikan materi ke pengunjung, juga dijadikan tempat tidur bagi turis yang menggunakan tenda. Ini dahulu terjadi saat di Bandar Bakau belum memiliki homestay.
Darwis mengakui banyak bantuan yang telah dikuncurkan PHR untuk Bandar Bakau.
“Sebelum ada PHR, saya menggunakan alam yang membiayai alam itu sendiri. Saya ambil Buah bakau yang matang, saya polibet, saya jual ke perusahaan yang ada sini. Kemudian 20 persennya untuk hutan, 20 persen saya, 60 persen untuk kelompok sini,” tuturnya.
Tentang Darwis, Penjaga Bandar Bakau, Bermimpi Miliki Labor Mangrove
Darwis, pria kelahiran Dumai yang kini berusia 57 tahun ini telah berpuluh tahun mengabdikan hidupnya membesarkan hutan mangrove. Dia dulunya seorang pemulung yang memungut kapal-kapal bekas.
“Saya memulung kapal-kapal bekas. Kapal bekas dahulu saya beli, saya jadikan jembatan. Akhirnya Bandar Bakau itu terkenal secara lokang,” ujarnya bercerita.
Lambat laun kondisi Bandar Bakau terus berkembang. Satu per satu bantuan berdatangan. Diantaranya PHR yang selalu konsisten membantu perkembangan hutan mangrove.
“Ini panggung teater yang dibangun oleh PHR. Saya minta ke PHR beton. Tak ingin pakai kayu,” terang Darwis.
Darwis menjadi orang utama yang mengarahkan pembangunan panggung teater ini agar Membangun tidak dengan melakukan pematangan lahan. “Jadi PHR membangun dengan teknik yang saya buat,” sebutnya.
Kehidupan pria yang memiliki tiga orang anak ini kini juga mulai membaik. Dia tak lagi memulung kapal bekas. Kini dia bertugas memberikan edukasi bagi pengunjung hutan mangrove. Tak hanya itu, dia juga diminta memberikan motivasi terkait mangrove ke kabupaten/kota yang ada di Riau.
“Saya tak hanya di Dumai memberikan motivasi, tetapi di kabupaten lain juga seperti Rohil dan lainnya.Saya selalu berpesan setiap turun ke daerah lain agar jangan miskin di kawasan hutan,” sebutnya.
Panggung teater ini berguna untuk menyampaikan aspirasi. “Misal kami edukasi sampah lewat seni, dan edukasi lainnya melalui penampilan seni,” lanjutnya bercerita.
Darwis kini menjabat sebagai ketua KTH, yang saat ini beranggotakan 15 orang. Di Bandar Bakau sendiri terdapat berbagai kelompok. Yakni Kelompok Tani, Kelompok Sadar Wisata dan Kelompok UMKM.
Darwis berharap Bandar Bakau bisa dijadikan pilihan pemerintah Dumai sebagai tempat melaksanakan kegiatan kebudayaan.
“Misalnya pada bulan Ramadan, Bupati Dumai hanya membuat colok. Padahal ada turunannya rebus ketupat,” ujarnya.
Selain itu, Darwis juga berharap nantinya Bandar Bakau memiliki Labor Mangrove sendiri. Hal ini diperlukan agar setiap ilmuan yang berkunjung, bisa langsung mendapatkan hasil penelitian yang dia inginkan.
“Mimpi saya ingin punya Labor mangrove di Bakau. Jadi jika peneliti masuk Labor, keluar sudah tahu peneliti,” harap Darwis.
Mangrove di Bandar Bakau beragam jenis. Tahun 2007, hasil penelitian menyebutkan ada 24 jenis mangrove di hutan bakau. Banyak diantaranya yang bisa di konsumsi dan lebih banyak lagi digunakan untuk farmasi.
Salah satu yang bisa dikonsumsi yaitu jenis Kedabu. Darwis sendiri pernah membuat minuman jus dari buah Kedabu.
“Satu buah Kedabu bisa menghasilkan 6 gelas jus. Dijual 5 ribu pergelas. Jadi 1 buah Kedabu bisa menghasilkan 30 ribu,” ujarnya.
Sedangkan untuk farmasi, terdapat banyak jeruju yang berguna sebagai obat bisul. Jeruju merupakan jenis tanaman yang mudah tumbuh dan mudah digunakan untuk obat. “Ambil bijinya, langsung makan. Ini obat bisul,” terangnya.
Darwis berharap jika nanti Bandar Bakau memiliki labor Mangrove sendiri, banyak ditemukan khasiat lain dari tumbuhan yang ada di Bandar Bakau, yang beroperasi setiap hari mulai pukul 9 pagi hingga 12 malam.
Panggung Teater Persembahan PHR
PHR menyadari betapa pentingnya keberadaan ekosistem mangrove. Pada tahun 2022, fokus diarahkan kepada infrastruktur. Sebab kondisi Bandar Bakau saat itu sangat minim infrastruktur.
“Pada tahun 2022 infrastrukturnya minim sekali. Jadi kami berpikir, kami tidak fokus dahulu kepada pemberdayaan seperti apa. Karena orang yang kami lihat di sini, pak Darwis, memang orang sudah gak perlu diapa-apain lagi. Beliau yang didik kami sebenarnya,” ujar Priawansyah, Analyst Social Perfomance PHR WK Rokan.
Untuk membantu Darwis mengembangkan Bandar Bakau, PHR mulai membangun beberapa infrastruktur agar menarik perhatian pengunjung. Diantaranya pedestrian, pusat galeri dan panggung teater.
“Panggung teater ini, ide-ide cara membangunnya ini ada di Pak Darwis semuanya,” sebutnya.
Priawansyah menyebutkan semenjak infrastruktur bertambah, jumlah pengunjung juga terus bertambah. Pada tahun 2023, sekiar 3000 pengunjung tercatat sudah menginjakan kaki ke Bandar Bakau.
“Termasuk dari tamu-tamu dari mancanegara. Ada yang dari Rusia, saya lihat kemarin foto-foto nya. Ada dari Jepang, Malaysia, Singapura dan Montenegro,” ungkapnya.
Ilmuan dari Rusia mendatangi Bandau Bakau karena mendapat kabar adanya burung migrasi dari Rusia ke Bandar Bakau Dumai. Tak hanya itu, burung-burung tersebut juga tidak kembali lagi ke adaerah asalnya.
“Mereka mau cek burung-burung apa saja yang udah datang ke sini dari negara mereka. Dan itu akan membahayakan negara mereka sebenarnya,” tuturnya.
Migrasinya burung-burung tersebut menunjukkan sebuah indikator ekologi bahwa bagusnya kondisi habitat Bandar Bakau untuk keberlangsungan hidup mereka.
“Ada juga burung migrasi dari negara lain, cuma namanya gak tahu saya. Tetapi dia gak banyak. Ada yang migrasi dari Malaysia,” lanjut Priawansyah.
Infrastruktur yang sudah dibangun PHR di Bandar Bakau ternyata mampu menstimulus pemuda setempat berkarya dan bisa mengembangkan sendiri. Terlihat dengan dibangunnya kafe Redampilu.
“Itu keren sekali kafe nya. Konsepnya alami, dari kayu-kayu recycle, buangan kapal, dan lain sebagainya, mereka ambil, mereka buat Redampilu,” sebutnya.
Selain Redampilu, di Bandar Bakau juga disediakan homestay yang juga hasil karya Masyarakat. Ini bisa digunakan untuk pengunjung yang ingin menginap dan tak perlu lagi membangun tenda. Juga terdapat fasilitas toilet umum yang bisa digunakan pengunjung.
“Kami senang melihat seperti itu. Artinya mereka ini, dengan ada infrastruktur dasar yang kami berikan, mereka bisa mengembangkan dirinya,” ujarnya.
Luas hutan mangrove di Bandar Bakau sekitar 25 hektare. Keberadaanya sangat penting untuk mereduksi karbon dioksida, yang dikeluarkan kendaraan. Mangrove termasuk salah satu tanaman yang paling banyak menyerap CO2. Sebagaimana diketahui CO2 berbahaya untuk kesehatan manusia, dan juga hewan-hewan lainnya.
“Ini equivalent-nya setara 500-800 mobil. Kalau kita basmi, kita potong semua Bandar Bakau ini, berarti kita menambah ngisap CO2 dari 800 mobil,” tuturnya.
Priawansyah menyarankan Darwis dan kawan-kawan untuk menempelkan foto-foto para pengunjung di setiap sudut Bandar Bakau.
“Biar mereka waktu kembali lagi ke sini, jadi suka, wah foto saya diabadikan di Bandar Bakau,” saran Priwansyah.#














