Sarawak, Malaysia

Asap Karhutla Kalimantan Capai Sarawak, 591 Sekolah Ditutup Sementara

Kesehatan Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:53 WIB  |    Reporter : Maudhi NC   Redaktur : Fithriady Syam  
Asap Karhutla Kalimantan Capai Sarawak, 591 Sekolah Ditutup Sementara

Asap karhutla Kalimantan menyelimuti sejumlah wilayah Sarawak, Malaysia, dengan kualitas udara memburuk hingga memicu penutupan ratusan sekolah. (Dok Bernama)

SURATKABARGENTA.ID, SARAWAK – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan, Indonesia mulai memberikan dampak lintas batas. Kabut asap yang terbawa angin menuju Sarawak, Malaysia, membuat kualitas udara memburuk hingga mendorong penutupan ratusan sekolah.

Sejumlah wilayah di Sarawak mencatat Indeks Pencemaran Udara (API) dalam kategori tidak sehat. Kondisi tersebut terjadi seiring pergerakan asap dari wilayah Kalimantan yang terbawa angin menuju bagian barat Sarawak.

Data menunjukkan sejumlah wilayah mencatat API tinggi, antara lain Kuching yang mencapai 180, Sri Aman 178, Samarahan 173, Sarikei 159, dan Sibu 108.

Wakil Direktur Jenderal Pengelolaan Lingkungan, Departemen Lingkungan Hidup (DOE) Malaysia, Azuri Azizah Saedon mengatakan memburuknya kualitas udara berkaitan dengan pergerakan kabut asap dari berbagai arah.

"Kualitas udara di negara ini hari ini memburuk, dengan peningkatan area yang mencatat angka API tidak sehat yang melibatkan daerah-daerah di Sarawak, yang disebabkan oleh pergerakan kabut asap dari berbagai arah," katanya dalam pernyataan yang dikutip Bernama pada Jumat (21/8/2026).

Laporan tersebut juga menyebutkan berdasarkan data Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC), ratusan titik panas terdeteksi di Kalimantan dan Sumatera. Kondisi itu meningkatkan risiko kabut asap lintas batas menuju Malaysia.

Dampak karhutla Kalimantan terhadap Sarawak juga mendapat sorotan Malay Mail. Media Malaysia tersebut melaporkan kabut asap yang menyelimuti Sarawak berkaitan dengan pergerakan asap dari Kalimantan Barat.

Sementara, Malay Mail menyoroti ribuan titik api yang terdeteksi di Kalimantan Barat. Mengutip data yang tersedia, sebanyak 4.041 titik api terdeteksi di wilayah tersebut hingga 10 Agustus.

Dari jumlah tersebut, 3.560 titik api berada dalam tingkat kepercayaan sedang, sedangkan 352 lainnya memiliki tingkat kepercayaan tinggi. Kondisi ini menjadi perhatian karena Kalimantan Barat berbatasan langsung dengan Sarawak.

Malay Mail sebelumnya juga melaporkan pergerakan asap dari Kalimantan menuju Sarawak telah menyebabkan sejumlah wilayah Malaysia mencatat kualitas udara tidak sehat.

Sorotan serupa disampaikan Free Malaysia Today (FMT). Media tersebut menyebut lebih dari 3.500 titik panas telah tercatat di Indonesia sepanjang Agustus 2026.

Jumlah tersebut disebut lebih dari empat kali lipat dibandingkan total titik panas pada Juli dan menjadi yang tertinggi untuk bulan Agustus sejak 2015. FMT mengaitkan meningkatnya risiko karhutla dengan kondisi yang semakin kering dan fenomena El Nino.

Kondisi kering tersebut berpotensi memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika curah hujan berada di bawah normal dan suhu meningkat.

Skala kebakaran di Kalimantan menjadi perhatian regional. Dalam periode 1-19 Agustus, tercatat 7.286 titik panas di Kalimantan, sementara di Sarawak terdapat 148 titik panas. Pergerakan asap dari Kalimantan Barat ke arah utara turut memperburuk kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak.

Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas pendidikan di Sarawak.

The Malaysian Reserve melaporkan sebanyak 591 sekolah di Sarawak diperintahkan tutup sementara pada Jumat (21/8/2026) setelah kualitas udara di Serian masuk kategori sangat tidak sehat.

Data Departemen Lingkungan Hidup Sarawak menunjukkan API di Serian mencapai 241 pada pukul 08.30 waktu setempat. Penutupan tersebut mencakup 509 sekolah dasar dengan 107.590 murid dan 82 sekolah menengah dengan 89.733 siswa.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi paparan siswa terhadap kabut asap yang memburuk. Pemerintah setempat juga terus memantau perkembangan kualitas udara di berbagai wilayah.

Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) sebelumnya mendeteksi gumpalan asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga tebal dari Kalimantan Barat yang bergerak ke arah utara menuju Sarawak bagian barat.

Kondisi tersebut membuat kabut asap dari karhutla Indonesia tidak lagi menjadi persoalan domestik, tetapi telah menjadi masalah lingkungan yang berdampak terhadap negara tetangga.

Pemerintah Malaysia melalui DOE juga meningkatkan pemantauan kualitas udara dan patroli di wilayah yang rawan pembakaran terbuka. Rencana Aksi Nasional Pembakaran Terbuka dan Rencana Aksi Nasional Kabut Asap turut diaktifkan untuk mengoordinasikan penanganan.

Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mengikuti perkembangan kualitas udara. Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran terbuka. (MNC/SP)

Laporan : Maudhi NC
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya