- Home
- Prov. Riau
- Cegah Kepiting Muda Terjaring, FPK Unri Modifikasi Pento Lebih Selektif
Seputar Kampus
Cegah Kepiting Muda Terjaring, FPK Unri Modifikasi Pento Lebih Selektif
Tim FPK Unri mengembangkan modifikasi alat tangkap pento dengan celah pelolosan untuk mengurangi tertangkapnya kepiting bakau berukuran undersize, Desa Sapat, Indragiri Hilir. (Dok IKA Unri)
SURATKABARGENTA.ID, PEKANBARU – Kepiting bakau berukuran kecil yang tertangkap sebelum waktunya menjadi salah satu persoalan dalam aktivitas perikanan masyarakat pesisir. Kondisi tersebut mendorong tim dosen dan mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Riau (FPK Unri) mencari cara agar kepiting muda dapat kembali ke habitatnya.
Solusi tersebut diwujudkan melalui modifikasi alat tangkap tradisional pento dengan menambahkan celah pelolosan (escape gap). Inovasi ini memungkinkan kepiting berukuran kecil keluar dari perangkap, sementara kepiting yang telah memenuhi ukuran tangkap tetap dapat dipanen nelayan.
Pengembangan pento tersebut dilakukan tim dari jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPK Unri yang terdiri atas Dr. Ir. Arthur Brown, M.Si., Dr. Muhammad Natsir Kholis, S.Pi., M.Si., Ir. Irwan Limbong, S.Pi., M.Si., Muhamad Yogi Prayoga, S.Pi., M.Si., Friska Anggriani Br Pandiangan, Sri Wahyuni, Pulungen Pinem, dan Maria Veronika.
“Modifikasi ini tidak mengharuskan nelayan mengganti seluruh alat tangkap yang telah digunakan, tetapi cukup melakukan penyesuaian konstruksi agar hasil tangkapan menjadi lebih berkualitas,” ujar salah seorang nelayan peserta kegiatan, Andi.
Inovasi tersebut bukan tanpa alasan. Penelitian yang dilakukan tim pada 2025 menemukan masih tingginya proporsi kepiting bakau berukuran kecil yang tertangkap menggunakan pento.
Pada jenis Scylla serrata, misalnya, hanya sekitar 12 persen hasil tangkapan yang berada dalam ukuran legal, sedangkan 88 persen lainnya masih tergolong undersize. Untuk Scylla paramamosain, sekitar 46 persen tangkapan telah berukuran legal dan 54 persen masih berukuran kecil.
Sementara pada Scylla tranquebarica, proporsi kepiting berukuran legal mencapai 67 persen, sedangkan 33 persen lainnya masih tergolong undersize.
Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim untuk melakukan rancang bangun pento pada 2026. Selain memasang celah pelolosan, peneliti juga menguji sejumlah bagian konstruksi, mulai dari sudut lintasan pintu masuk hingga ukuran bukaan mulut perangkap.
Hasil pengujian awal menunjukkan modifikasi tersebut mampu meloloskan sekitar 70 persen kepiting bakau muda. Dengan demikian, kepiting yang belum mencapai ukuran konsumsi memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup dan berkembang di alam.
Tak hanya mengejar selektivitas, tim juga mengembangkan aspek efektivitas alat tangkap melalui pengujian kualitas umpan hasil ekstraksi. Langkah tersebut dilakukan agar pento tetap mampu memberikan hasil tangkapan yang baik bagi nelayan.
Inovasi kemudian diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Sapat, Kabupaten Indragiri Hilir, pada 27-30 Agustus 2026.
Dalam kegiatan tersebut, nelayan mendapatkan edukasi mengenai pentingnya penggunaan alat tangkap selektif serta diperkenalkan dengan desain pento yang dilengkapi sistem pelolosan kepiting muda.
Pento sendiri merupakan alat tangkap tradisional berupa bubu yang telah lama digunakan masyarakat pesisir Sumatera untuk menangkap kepiting bakau. Alat tersebut umumnya dibuat dari bahan sederhana seperti bambu, rotan, kawat, jaring, kayu, hingga plastik.
Bagi masyarakat pesisir Indragiri Hilir, pengembangan alat tangkap ini memiliki arti penting karena penangkapan kepiting bakau menjadi salah satu aktivitas yang mendukung mata pencaharian nelayan.
Melalui modifikasi sederhana tersebut, FPK Unri berupaya mempertemukan kepentingan ekonomi nelayan dengan keberlanjutan sumber daya perikanan. Nelayan tetap dapat menangkap kepiting, namun kepiting muda yang belum layak tangkap diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.
Pengembangan pento selektif ini diharapkan menjadi salah satu langkah menjaga populasi kepiting bakau di perairan Riau sekaligus mendorong praktik penangkapan yang lebih ramah lingkungan di kalangan masyarakat pesisir. (MNC/SP)














