Tari Zapin Raih Rekor Dunia

SF Hariyanto Janji Jadikan Perempuan Melayu Garda Terdepan Upaya Lestarikan Khazanah Melayu

Prov. Riau Senin, 12 Januari 2026 - 16:51 WIB  |   Redaktur : Zulkifli Ali  
SF Hariyanto Janji Jadikan Perempuan Melayu Garda Terdepan Upaya Lestarikan Khazanah Melayu

Ribuan perempuan Riau dari berbagai kelompok dan usia sedang memperagakan gerakan Tari Zapin.

SURATKABARGENTA.ID, PEKANBARU –  Jalan adimarga di pusat pemerintahan Provinsi Riau itu, dihiasi riakan ombak landai warna warni manusia. Ahad (11/1/2026) pagi, sebanyak 6.000 penari menghadirkan simfoni gerakan seiring seirama menyemarakkan Jalan Gajah Mada, Pekanbaru.  

Kata adimarga berarti jalan raya yang lebar, sering kali dengan deretan pohon di sisi-sisinya. Dikenal juga sebagai bulevar (dari bahasa Prancis, boulevard).

Ribuan penari perempuan dari berbagai kalangan dan usia mempersembahkan Tari Zapin Massal. Yang bukan sekadar tarian, melainkan sebuah pernyataan cinta terhadap akar budaya.

Peristiwa yang diinisiasi oleh Badan Kerja sama Organisasi Wanita (BKOW) Riau ini, akhirnya resmi ditasbihkan sebagai Rekor Dunia. Sebuah pencapaian yang memahat nama Bumi Lancang Kuning di dunia internasional.

Mengusung tema "Bersatu Dalam Gerak Zapin Lestarikan Budaya Melayu," ribuan pasang kaki itu melangkah dengan irama yang presisi. Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menilai pemandangan kolosal ini dengan mata yang berbinar penuh kebanggaan.

Baginya, gemuruh tabuhan marwas dan gesekan gambus yang mengiringi 6.000 jiwa tersebut adalah bukti bahwa Riau tidak pernah goyah meski dihantam badai modernitas yang kian menderu di ufuk zaman.

"Riau memilih jalan yang berbeda. Kita memilih untuk maju tanpa tercerabut, berkembang tanpa meninggalkan akar, dan membangun tanpa mengorbankan nilai," tutur SF Hariyanto.

Di matanya, keberhasilan mengumpulkan ribuan penari ini adalah sebuah diktum budaya bahwa kemajuan teknologi tidak seharusnya menenggelamkan pusaka moyang. Melainkan harus berjalan beriringan dalam harmoni yang indah.

Lebih jauh, ia memaknai Tari Zapin sebagai sebuah peradaban yang diterjemahkan ke dalam olah raga dan rasa. Baginya, setiap derap langkah yang serempak adalah pengejawantahan dari disiplin, kekompakan, dan adab yang luhur.

Zapin mengajarkan sebuah filosofi hidup yang mendalam. Bahwa kebersamaan adalah pondasi yang jauh lebih utama daripada keinginan untuk menonjolkan diri sendiri. Dan kecantikan sejati hanya bisa lahir dari keteraturan batin.

Keanggunan itu pun terpancar dari busana kebaya Labuh Kekek yang membalut raga para penari perempuan. Menciptakan sebuah narasi tentang kehormatan yang tak lekang oleh waktu.

SF Hariyanto menegaskan, di saat dunia seakan berlomba-lomba mempertontonkan kebebasan yang tanpa sekat, perempuan Melayu Riau justru berdiri tegak menunjukkan bahwa kesantunan adalah sebuah kekuatan yang menggetarkan. Pakaian tersebut adalah benteng muruah (bentuk baku versi KBBI dari marwah), lambang kemuliaan yang dijaga dengan penuh ketulusan.

"Begitu pula kebaya Labuh Kekek yang dikenakan hari ini. Di saat dunia berlomba-lomba menampilkan kebebasan tanpa batas, perempuan Melayu Riau justru menunjukkan bahwa kehormatan adalah kekuatan, bukan kelemahan," ungkapnya.

"Pemprov Riau tidak akan membiarkan budaya Melayu hanya hidup di panggung seremonial. Komitmen kami jelas dan terukur," ungkap SF Hariyanto dengan penuh keyakinan.

Ia berjanji, perempuan-perempuan Melayu akan terus didorong untuk menjadi garda terdepan sebagai penjaga nilai-nilai luhur. Memastikan bahwa mereka adalah ruh utama dalam pelestarian budaya, bukan sekadar pelengkap hiasan dalam sebuah acara.

Satu hal yang memantik kekaguman adalah kemandirian di balik kemegahan acara ini. Seluruh rangkaian kegiatan terselenggara tanpa menyentuh sepeser pun dana APBD.

SF Hariyanto memberikan apresiasi setinggi langit kepada BKOW Provinsi Riau atas dedikasi yang tak terhingga. Baginya, ini adalah kerja konsistensi, sebuah pengabdian yang lahir dari keyakinan batin dan kecintaan yang tulus terhadap tanah tumpah darah, bukan sekadar tugas administratif yang kering.

Bagi pemerintah daerah, torehan rekor dunia ini bukanlah garis finis, melainkan sebuah titik mula bagi sebuah gerakan kebudayaan yang lebih masif dan berkesinambungan.

Angka 6.000 penari itu bukanlah sekadar statistik di atas kertas rekor. Melainkan sebuah proklamasi kepada seluruh penjuru Indonesia bahwa Riau menjaga warisan leluhurnya dengan sungguh-sungguh, dengan cara yang bermartabat, dan dalam bingkai kebersamaan yang kokoh.

SF Hariyanto mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus merawat azam dan khazanah tradisi ini agar tak padam ditelan masa. Pementasan kolosal di Jalan Gajah Mada itu adalah sebuah monumen hidup tentang jati diri bangsa yang teguh. Zapin akan terus menari di Bumi Lancang Kuning, menjadi pengingat bahwa di setiap langkah yang kita ambil, ada doa dan nilai-nilai leluhur yang senantiasa menuntun jalan menuju masa depan yang gemilang.(mc riau)

Redaktur : Zulkifli Ali





Berita Lainnya