Wisata Alam dan Warisan Budaya Imbo Putui
Gerbang masuk Ekowisata Hutan Adat Imbo Putui yang menjadi penanda kawasan wisata alam dan budaya di Desa Petapahan, Kabupaten Kampar.
KAMPAR – Deretan huruf merah berukuran besar bertuliskan Hutan Adat Imbo Putui berdiri kokoh di pintu masuk kawasan hutan adat. Bukan sekadar penanda lokasi, tulisan ikonik itu seolah menjadi gerbang penyambut bagi setiap pengunjung yang hendak menelusuri kekayaan hutan adat di Petapahan. Saya dan beberapa teman secara bergantian menyempatkan diri berswafoto sebagai awal mula ekspedisi.
Bersama Pertamina Hulu Rokan (PHR), saya dan beberapa rekan wartawan lainnya mendapat kesempatan untuk mengenal lebih dalam Hutan Adat Imbo Putui.
Mengenakan setelan sarung dan kaus bertuliskan Kuala Lumpur, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Adat Imbo Putui Sayid Faizan Tas’ad menyambut rombongan kami. Pria yang akrab dipanggil Bang Ben ini, ceritakan sejarah hingga kondisi terkini Imbo Putui.
Keanekaragaman flora dan fauna menjadi daya tarik Hutan Adat Imbo Putui di Desa Petapahan, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau. Kawasan seluas 251 hektare ini bukan sekadar hamparan hutan yang dipertahankan kelestariannya, tetapi juga menjadi ruang hidup masyarakat adat, pusat edukasi lingkungan, sekaligus potensi pengembangan wisata berbasis alam dan budaya.
Memasuki kawasan ini, pengunjung akan disambut suasana hutan yang masih asri. Pepohonan tumbuh rapat, vegetasi alami menghiasi sepanjang jalur, sementara aliran sungai menghadirkan suasana sejuk di tengah kawasan hutan.
“Airnya bening dan sejuk. Ayok kita foto-foto di pinggir sungai,” ujar Henny, salah satu pengunjung. Ia menelusuri setiap sudut sungai, mencari sudut terbaik untuk berswafoto.

Henny, salah satu pengunjung menikmati momen di pinggir sungai yang mengalir di Imbo Putui.
Hutan Adat Imbo Putui merupakan kawasan hutan adat yang dikelola masyarakat hukum adat. Penetapan kawasan ini memiliki dasar hukum melalui Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.5703/MENLHK-PSKL/PKTHA/KUM.1/9/2019 tertanggal 17 September 2019.
Pengelolaan berbasis masyarakat menjadi kekuatan tersendiri. Hutan tidak hanya dipandang sebagai kawasan yang harus dilindungi, tetapi juga sebagai sumber kehidupan yang dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa mengabaikan prinsip keberlanjutan.
Ben mengatakan ada tiga kelompok usaha perhutanan sosial atau KUPS yang mengembangkan potensi kawasan secara produktif. Pertama, KUPS Sadar Wisata Imbo Putui. Kelompok ini bergerak pada sektor wisata dengan kategori penghargaan Silver. Volume produksi yang tercantum mencapai 10.000 kunjungan per tahun.
Kedua, KUPS Soko Kampuong yang mengembangkan komoditas pembibitan. Kelompok ini juga tercatat dalam kategori Silver dengan volume produksi mencapai 50.000 bibit per tahun.
Ketiga, KUPS Lebah Madu yang mengembangkan potensi hasil hutan bukan kayu melalui kegiatan budi daya dan produksi madu. Kelompok ini tercatat dalam kategori Silver dengan volume produksi sekitar 10 kilogram per tahun.
Untuk menunjang aktivitas wisata, kawasan Imbo Putui dilengkapi sejumlah fasilitas yang tersebar di beberapa titik. Di antaranya Camping Ground, Tepian Joghing Tupai, pembibitan tanaman hutan, Tepian Ghong(e), Rumah Toga, musala, gazebo dan toilet.
Rumah Toga atau Tanaman Obat Keluarga menjadi salah satu fasilitas yang memiliki nilai edukasi. Pengunjung dapat mengenal potensi tanaman obat yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain menawarkan pengalaman wisata alam dan edukasi, pengelola juga mencantumkan tarif kunjungan yang relatif terjangkau. Untuk wisatawan yang berkemah, tarifnya Rp15.000 per orang per malam, baik anak-anak maupun dewasa. Sementara tarif parkir mobil sebesar Rp10.000 per unit per malam dan sepeda motor Rp5.000 per unit per malam.
Adapun pengunjung harian, tarif masuk ditetapkan Rp10.000 per orang, baik anak-anak maupun dewasa. Biaya parkir mobil sebesar Rp5.000 per unit per hari, sedangkan sepeda motor Rp3.000 per unit per hari.
Tak hanya Henny, sekelompok anak yang masih mengenakan seragam sekolah juga tampak senang mandi di aliran sungai. Mereka berenang dan saling bercanda sembari menikmati sejuknya air yang mengalir di kawasan Imbo Putui.
Trekking Lima Kilometer
Salah satu pengalaman menarik yang ditawarkan Hutan Adat Imbo Putui adalah kegiatan trekking menyusuri jalur hutan. Berdasarkan papan informasi rute trekking dan keanekaragaman hayati, jalur yang disediakan memiliki panjang sekitar lima kilometer.
Jalur tersebut memiliki tingkat kesulitan sedang dengan estimasi waktu tempuh sekitar dua jam. Rute trekking dirancang mengelilingi bagian kawasan hutan adat, dengan penanda jalur yang memperlihatkan batas hutan, jalan desa, jalur trekking, dan aliran sungai.
Sepanjang perjalanan, wisatawan dapat mengenal berbagai jenis flora dan fauna yang menjadi bagian dari kekayaan ekosistem Imbo Putui.
Papan interpretasi kawasan memperkenalkan sejumlah satwa yang hidup di habitat hutan tersebut. Di antaranya monyet ekor panjang, elang ular bido, beruang madu, labi-labi, owa ungko, enggang jambul putih, kukang Sumatera, dan raja udang meninting. Dari daftar tersebut, sejumlah satwa memiliki status konservasi yang perlu mendapat perhatian.
Selain satwa, terdapat pula informasi mengenai tumbuhan khas, seperti anggrek merpati dan kantong semar.
“Di dalam masih banyak kantong semar (Tumbuhan Insektivora, memiliki kantong berisi cairan yang dapat melarutkan zat-zat dari makhluk hidup kecil seperti serangga sebagai nutrisi,red),” ujar Ben.
Menyimpan Potensi Tegakan Benih Kulim
Selain kekayaan satwa dan tumbuhan, kawasan Desa Petapahan juga memiliki potensi sumber daya genetik pohon kulim. Saat menelusuri kawasan yang ditumbuhi pohon Kulim, Ben ceritakan kerap ada oknum yang datang hendak mencuri salah satu jenis bumbu khas Melayu ini.

Bang Ben menunjukan buah kulim yang gugur ke tanah. Kepada pengunjung, Bang Ben menjelaskan tentang kulim dan kegunaannya.
“Pernah ada yang kami tangkap karena ketahuan mengambil beberapa karung kulim. Mereka kami sidang dan mendapat denda adat berupa 10 sak semen,”ujar Ben.
Aturan adat di Imbo Putui tidak bersifat tetap. Artinya keputusan diambil secara musyawarah, tergantung bagaimana kondisi saat kejadian.
Kulim merupakan salah satu jenis pohon hutan yang menjadi bagian dari kekayaan vegetasi alami Sumatera. Memiliki aroma khas menyerupai bawang putih, yang kerap digunakan masyarakat sebagai bumbu masakan khas Melayu.
“Kulim lumayan mahal harganya. Makanya ada saja yang nekat mencuri untuk dijual lagi,” tutur Ben.
Hal tersebut terlihat dari papan informasi sumber benih yang mencatat keberadaan Tegakan Benih Kulim Petapahan. Kawasan sumber benih ini berlokasi di Desa Petapahan, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.
Kawasan yang ditumbuhi Kulim ini dikategorikan sebagai Tegakan Benih Teridentifikasi. Identifikasinya tercatat pada 12 Oktober 2017, dengan pengelolaan oleh masyarakat adat Desa Petapahan dengan luas mencapai 20 hektare.
Data ini memperlihatkan bahwa potensi hutan Petapahan tidak hanya terletak pada keindahan alam dan keberadaan satwa liar. Kawasan tersebut juga menyimpan sumber daya benih tanaman hutan yang memiliki nilai penting bagi upaya pelestarian dan pengembangan kehutanan.
Imbo Putui Sebelum dan Sesudah PHR Masuk
Potensi besar Hutan Adat Imbo Putui tidak terlepas dari peran masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan kawasan tersebut. Namun upaya pelestarian juga membutuhkan dukungan berbagai pihak agar keberadaan hutan dapat memberikan manfaat lebih luas, termasuk dari sisi ekonomi.
PHR mulai menjalin kolaborasi dengan Hutan Adat Imbo Putui sejak 2024, melalui program Community Involvement and Development (CID). Yakni program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi perusahaan.
Junior Officier CID Zona Rokan South, Arraafi Adna Yudistira mengatakan PHR melihat potensi wisata alam yang bagus. Seperti ada trekking, susur sungai dan menjadi dasar bagi PHR untuk hadir dan mengembangkan potensi Imbo Putui. PHR fokus dalam meningkatkan ekonomi masyarakat setempat melalu pengembangan kawasan tersebut sebagai lokasi wisata.

Arraafi (berompi) dan Bang Ben saat mengajak pengunjung menelusuri kawasan tanaman kulim.
“Kami di sini fokus dalam mengembangkan ekonomi. Di samping lingkungan yang sudah terjaga, di sini kami hadir untuk bagaimana caranya bisa melibatkan banyak masyarakat,” ujarnya.
Setiap tahun, PHR menetapkan fokus pendampingan yang berbeda sesuai dengan kondisi di lapangan. Pada awalnya, PHR fokus pada penguatan kelembagaan. Penguatan terhadap masyarakat adat dilakukan melalui pelatihan manajemen usaha, hospitality, ada juga bagaimana pembukuan keuangan dan pelatihan lainnya.
Tahun berikutnya, PHR mulai fokus membangun dan rmerevitalisasi fasilitas pendukung, yang bisa digunakan oleh setiap wisatawan yang hadir. Beberapa fasilitas seperti Mushola, Toilet, Pendopo, rambu-rambu hingga area camping ground.
“Awal PHR hadir dan berdiskusi dengan pengurus hutan adat, fasilitas yang minim menjadi salah satu kendala dalam pengembangan kawasan wisata. Awal itu kita belum banyak ada rambu-rambu penunjuk jalan seperti peta dan lain-lain itu. Jadi masyarakat disini nggak tahu, cuma ada menikmati wisata alam itu saja,” sebutnya.
Fokus pengembangan wisata Imbo putui, PHR juga tetap memperhatikan kelestarian hutan. baru-baru ini, kami menanam sekitar 100 pohon di area hutan adat Imboputuin. Untuk masyarakat khususnya di area kelompok-kelompok yang ada di hutan adat Imboputuin.
“kita juga bantu terkait paket-paket wisata, agar pengunjung yang datang kesini juga dapat menikmati manfaat tersebut,” tutur alumni UGM ini.
PHR berharap melalui pelatihan kelompok dan peningkatan fasilitas, wisatawan yang hadir terus bertambah dan manfaat kawasan hutan Imbo Putui bisa dinikmati masyarakat setempat.(*)














