Seputar Kampus

FKIP Unri Helat The 4th ISOLLEAC 2026, Eratkan Kemitraan Riset LPTK Wilayah Barat

Nasional Rabu, 04 November 2026 - 16:19 WIB  |    Reporter : Maudhi NC   Redaktur : Fithriady Syam  
FKIP Unri Helat The 4th ISOLLEAC 2026, Eratkan Kemitraan Riset LPTK Wilayah Barat

FKIP Universitas Riau resmi menggelar konferensi internasional The 4th ISOLLEAC 2026 secara hybrid di The Zuri Hotel Pekanbaru. (dok ist/cakaplah)

SURATKABARGENTA.ID, PEKANBARU – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Riau (Unri) menggelar The 4th International Seminar on Language, Literature, Education, Arts, and Culture (ISOLLEAC) 2026 di The Zuri Hotel Pekanbaru, 3-5 November 2026.

Konferensi internasional yang bekerja sama dengan Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri (BKS PTN) Wilayah Barat ini diikuti sebanyak 203 peserta dari 34 perguruan tinggi di Indonesia dan enam perguruan tinggi luar negeri.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid atau kombinasi tatap muka dan daring tersebut dibuka langsung oleh Dekan FKIP Unri, Prof. Dr. Jimmi Copriady, M.Si.

Ketua Panitia ISOLLEAC 2026, Prof. Afrianto, M.Ed., Ph.D., mengatakan konferensi internasional ini menjadi wadah bagi dosen, peneliti, guru, mahasiswa, dan praktisi untuk berbagi hasil penelitian serta gagasan dalam bidang bahasa, sastra, pendidikan, seni, dan budaya.

Menurutnya, melalui forum tersebut diharapkan terbangun kolaborasi antarpeserta, baik dalam bentuk publikasi ilmiah, kegiatan pengajaran, maupun pertukaran pengetahuan di kampus masing-masing.

"Ini menjadi sarana bagi dosen untuk saling berbagi hasil penelitian. Dari sharing penelitian tersebut diharapkan terjalin kolaborasi, baik dalam bentuk publikasi, mengajar, maupun berbagi pengalaman di kampus masing-masing. Tentu ini juga menjadi ajang silaturahmi antar dosen di wilayah barat," ujarnya, Rabu (4/11/2026).

Ia menjelaskan, dalam ISOLLEAC 2026 terdapat 203 proposal penelitian yang diseminarkan dan dipresentasikan. Hasil konferensi tersebut nantinya akan dipublikasikan dalam bentuk jurnal ilmiah.

Selain menghasilkan publikasi, pertemuan ini juga diharapkan melahirkan sejumlah rekomendasi untuk pengembangan perguruan tinggi di wilayah barat Indonesia.

Tahun ini, ISOLLEAC mengusung tema Transforming Language, Literature, Arts and Culture through AI-Driven Innovation, Sustainable Practices, and Global Collaboration.

Tema tersebut kemudian dijabarkan ke dalam enam subtema, yakni Language Teaching and Learning, Applied Linguistics and Language Studies, Literature Studies, Arts and Cultural Studies, Artificial Intelligence, Digital Innovation and Education, serta Sustainability, Global Collaboration and Interdisciplinary Research.

Afrianto mengatakan, konferensi menghadirkan empat pembicara utama dari dalam dan luar negeri, yakni Prof. Masaki Ono, Ph.D dari University of Tsukuba, Jepang; Prof. Dr. Hasnah Faizah AR, M.Hum dari Universitas Riau; Assoc. Prof. Adrian Rodgers, Ph.D dari Ohio State University, Amerika Serikat; serta Dr. (c) Yacinta Kurniasih, M.Ed dari Monash University, Australia.

Selain seminar internasional, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan Annual Meeting SEMIRATA BKS-PTN Barat bidang Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya, rapat tahunan BKS PTN Wilayah Barat, pemilihan tuan rumah konferensi tahun berikutnya, serta pemilihan ketua BKS PTN Wilayah Barat.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari. Pada 3 November diawali dengan gala dinner, dilanjutkan seminar dan rapat tahunan pada 4 November, serta kegiatan excursion pada 5 November.

Konferensi ini turut disponsori Japan Foundation dan mendapat dukungan Diktisaintek Berdampak.

Sementara itu, Dekan FKIP Unri, Prof. Dr. Jimmi Copriady, M.Si. dalam sambutannya menyampaikan kebanggaan atas kehadiran para dekan, pakar pendidikan, guru besar, dan dosen dari berbagai perguruan tinggi negeri di wilayah barat Indonesia.

Ia mengatakan, pertemuan tersebut bukan sekadar menjadi ruang diskusi keilmuan bahasa, sastra, seni, dan budaya secara teoretis. Lebih dari itu, forum ini memiliki tanggung jawab untuk mentransformasikan berbagai bidang keilmuan tersebut ke dalam dunia pendidikan.

Menurutnya, para akademisi memiliki tanggung jawab dalam mempersiapkan calon pendidik bangsa agar mampu mengajarkan ilmu humaniora secara adaptif di era digital tanpa kehilangan akar budaya dan karakter luhur bangsa.

"Forum tahunan ini menjadi momentum krusial bagi kita untuk menyelaraskan kurikulum LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan), memperkuat kolaborasi riset, serta saling bertukar inovasi pengajaran," ujarnya.

Sementara itu, Ketua BKS PTN Barat bidang Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya, Prof. Dr. Ermanto, S.Pd., M.Hum, mengatakan tema yang diangkat dalam ISOLLEAC 2026 sangat relevan dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Menurutnya, perkembangan AI merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari karena telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia berharap pemanfaatan inovasi AI dapat memberikan dimensi baru bagi pengembangan bahasa dan sastra, baik dalam aspek pelestarian maupun penciptaan karya. Di sisi lain, kolaborasi global juga diperlukan untuk memperkuat dialog antarbudaya dan menjembatani tradisi lokal dengan modernitas.

"Melalui inovasi AI, bahasa dan sastra diberi dimensi baru dalam pelestarian serta penciptaan, dan memastikan ekosistem seni tetap hidup," katanya.

Sementara itu, Rektor Universitas Riau, Prof. Dr. Sri Indarti, S.E., M.Si yang diwakili Wakil Rektor, Dr. Mexsasai Indra, S.H., M.H, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memiliki arti strategis bagi perguruan tinggi negeri di wilayah barat Indonesia.

Ia mengatakan, forum BKS PTN memiliki peran dalam menjaga mutu, keselarasan kurikulum, serta memperkuat kolaborasi riset di bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya agar tetap berada dalam koridor standar nasional.

Menurutnya, pelaksanaan ISOLLEAC keempat menjadi bukti upaya perguruan tinggi negeri wilayah barat dalam memperluas jejaring dan internasionalisasi akademik.

Dalam sambutannya, Rektor Unri juga menitipkan tiga harapan untuk pengembangan riset dan akademik melalui forum BKS PTN Wilayah Barat.

Pertama, penguatan program riset berbasis budaya Melayu. Hal ini sejalan dengan keberadaan Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Ketahanan Pangan dan Masyarakat Adat Berbasis Manuskrip Melayu di Universitas Riau.

Unri berharap BKS PTN Wilayah Barat dapat menjadi konsorsium riset manuskrip Melayu Nusantara yang melibatkan berbagai perguruan tinggi, mulai dari Aceh, Minangkabau, Riau, hingga Lampung.

"Kita punya manuskrip di Aceh, Minangkabau, Melayu Riau, hingga Lampung. Mari kita hilirisasi menjadi kamus digital, bahan ajar berbasis AI, dan Unri siap menjadi inisiator," ujarnya.

Kedua, akselerasi dan hilirisasi hasil penelitian agar tidak berhenti pada publikasi prosiding, tetapi dapat menghasilkan produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Beberapa bentuk hilirisasi yang diharapkan diantaranya animasi sastra lisan dan aplikasi pembelajaran bahasa daerah.

Ketiga, penguatan kolaborasi jurnal ilmiah serta peningkatan jumlah guru besar di bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya.

Unri, kata dia, siap memfasilitasi pembentukan jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus yang dimiliki bersama oleh BKS PTN Wilayah Barat.

Melalui berbagai agenda tersebut, ISOLLEAC 2026 diharapkan tidak hanya menjadi forum pertukaran gagasan akademik, tetapi juga menghasilkan kolaborasi riset dan inovasi yang berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan, pelestarian budaya, serta penguatan jejaring perguruan tinggi di tingkat internasional. (MNC/SP)

Laporan : Maudhi NC
Redaktur : Fithriady Syam





Berita Lainnya